Kamis, 06 Desember 2012

PENDIDIKAN VERSI KI HAJAR DEWANTARA


PENDIDIKAN BUDI PEKERTI UPAYA MENDIDIK MANUSIA SEUTUHNYA
Dalam bahasan berikut akan diuraikan pokok-pokok pikiran dari Yulianingsih dan Ismantoro dalam Suplemen Republika, hari Sabtu 11 Mei 2002 yang selengkapnya menyatakan sebagai berikut :
Bagi para siswa di sekolah formal pada umumnya, tiada saat paling membahagiakan kecuali terdengarnya dentang bunyi bel sekolah. Mereka menyambut tanda berakhirnya jam sekolah dengan penuh suka cita. Mereka merasa terbebas dari himpitan empat dinding tembok kelas dan sesaknya bangku kelas yang membelenggu dan memasung mereka selama 6 jam lebih.
Fenomena sekolah tak ubahnya penjara bagi mereka yang memegang monopoli transfer ilmu pengetahuan. Sekolah seolah-olah menjadi satu-satunya tempat belajar. Guru yang berada di depan ruang kelas mendominasi peserta didik. Siswa-siswa yang tak merdeka itu dengan proses pendidikan yang otoriter dan tidak menjamin kebebasan semacam itu, bakal terbentuk hanya sekadar sebagai sekrup mekanisme.
Kondisi dan realitas di atas, tentunya bertolak belakang dengan konsep pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara ( Bapak Pendidikan Nasional Indonesia ). Perguruan Taman Siswa yang didirikannya mengantar siswa untuk mengenal rasa kemerdekaan terhadap apapun. Benih kemerdekaan terus dikobarkan dalam jiwa anak didik melalui mata pelajaran yang diajarkan dalam perguruan tersebut.
Kalau dulu benih kemerdekaan untuk terbebas dari belenggu penjajahan maka saat ini benih kemerdekaan ditanamkan agar siswa menjadi anak yang mandiri dan bisa menentukan sikap. Konsep kemerdekaan dalam setiap diri anak didik menurut Ki Buntarsono diberikan sesuai dengan situasi dan kondisi terakhir. Dalam ketamansiswaan, kurikulum pendidikan Taman Siswa tentang ajaran hidup Ki Hajar Dewantara, konsep itu diberikan sesuai dengan system, bentuk, isi, dan irama atau disingkat SBI.
Ketamansiswaan merupakan kekhususan pendidikan di lingkungan Taman Siswa. Kekhususan pendidikan itu ditetapkan dalam konggres XII Persatuan Taman Siswa pada tahun 1976, karena sejak tahun ajaran 1976-1977 Perguruan Taman Siswa sepenuhnya menggunakan kurikulum negeri. Jadi Taman Siswa melaksanakan sepenuhnya ketentuan system pendidikan nasional dengan tetap mengamalkan dan mengembangkan ajaran Ki Hajar Dewantara.
Konsep Ki Hajar Dewantara ( 1930 ) tentang pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti ( kekuatan batin dan karakter ),pikiran (intelek), dan tubuh anak. Dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisahkan dari bagian-bagian itu agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai suatu proses yang dinamis dan berkesinambungan. Di sini tersirat pula wawasan kemajuan, karena sebagai suatu proses pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan kemajuan zaman.Keseimbangan unsure cipta, rasa, dan karsa yang tidak dapat dipisah-pisahkanpun memperlihatkan bahwa Ki Hajar Dewantara tidak memandang pendidikan hanya sebagai proses penularan atau transfer ilmu pengetahuan belaka. Secara simultan menurutnya pendidikan juga merupakan proses penularan nilai dan norma serta penularan keahlian dan ketrampilan.
Setiap anak sejak lahir telah dikaruniai berbagai potensi kodrati yang masih harus dikembangkan sepanjang hayat. Anak memiliki jiwa dan raga yang meliputi unsure cipta, rasa, dan karsa, serta nilai-nilai moralitas dan religiusitas. Semua harus dikembangkan secara bersamaan dan terpadu, tidak terpisahkan satu sama lainnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa Taman Siswa mendidik anak didik seutuhnya.
Sebagai perwujudan konsep yang menempatkan anak sebagai sentral atau pusat proses pendidikan maka Ki Hajar Dewantara memperkenalkan Sistem Among. Sistem ini menerapkan asas kekeluargaan yang berintikan kasih saying dan cinta kasih. Seorang guru atau pamong diharapkan menjalin hubungan dengan siswanya atau among, seperti hubungan anak dengan orang tuanya. Dengan system ini, seorang pamong atau guru diharapkan bisa memberikan bimbingan secara intensif, dimana anak didik tidak diberikan tekanan untuk melakukan sesuatu, tetapi justru diberikan kemerdekaan sepenuhnya.
Dalam pelaksanaan system among ini dikenal dengan Tutwuri Handayani, disini siswa akan diberikan kemerdekaan untuk mengerjakan sesuatu dan berfikir positif. Dalam hal ini seorang pamong dituntut untuk memberikan bimbingan dan tuntunan saat anak didik melakukan hal yang negative dan merugikan dirinya maupun orang lain. Selain system among yang tidak terbatas di lingkungan sekolah saja, Ki Hajar pun mengajarkan bahwa pendidikan berlangsung di tiga lingkungan atau tripusat pendidikan yang meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat serta gerakan pemuda.
Pendidikan dalam lingkungan keluarga berlangsung pendidikan informal tentang agama, budi pekerti, dan dasar-dasar hidup kemasyarakatan. Pendidikan formal diperoleh disekolah dibawah pimpinan guru mengenai berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan lingkungan masyarakat dikenal sebagai ajang pendidikan nonformal, merupakan tempat anak didik berlatih berbagai keterampilan dan memperluas hidup kemasyarakatan.
Sebagai konsekuensi dari tripusat pendidikan itu adalah teladan bagi anak didik tidak terbatas pada kalangan pendidik saja. Kedua orang tua, tokoh masyarakat, pemimpin masyarakat, maupun pemimpin bangsapun jadi panutan. Semua itu akan menjadi tolok ukur keberhasilan penerapan system among terhadap generasi penerus atau anak didik kita. Jikalau pemimpin dan tokoh masyarakatnya atau orang tuanya tidak bisa menjadi teladan atau panutan yang baik, maka secara otomatis anak didik yang sekaligus sebagai generasi penerus menjadi generasi muda yang susah untuk diperbaiki.
Menurut Ki Buntarsono dalam Yulianingsih (2002), pendidikan seharusnya diarahkan agar tidak hanya mengejar intelektual saja. Akan tetapi moral anak didiknya juga harus diperkuat. Jika yang dikejar hanya intelektualnya saja maka dinamakan pengajaran, tetapi jika yang dikejar intelektual dan moralnya maka hal itu bisa dikatakan sebagai pendidikan.
Pembentukan moral adalah tugas pengajaran budi pekerti, menurut Ki Hajar Dewantara, pengajaran budi pekerti tidak lain adalah mendukung perkembangan hidup anak-anak, lahir dan batin dari sifat kodratinya menuju ke arah peradaban dalam sifatnya yang umum. Pengajaran ini berlangsung sejak anak-anak hingga dewasa dengan memerhatikan tingkatan perkembangan jiwanya.
Sebagai bahan perbandingan, Ki Hajar Dewantara menunjuk tradisi pendidikan islam yang bermetodekan syariat, hakikat, tarikat, dan makrifat. Pengajaran syariat, misalnya diterapkan pada anak-anak kecil untuk membiasakan mereka bertingkah laku dan berbuat menurut peraturan dan kebiasaan umum. Si pamong memberi contoh, anjuran, atau perintah untuk melakukan sesuatu. Keterangan rinci tidak perlu diberikan karena si anak belum mampu menalar.
Sedangkan dalam metode makrifat, anak didik yang sudah dewasa harus sudah mengerti adanya hubungan antara tata tertib lahir dan kedamaian batin.Mereka sudah cukup berlatih dan menguasai dirinya sendiri serta menempatkannya dalam garis-garis syariat dan hakikat.
Mereka boleh dianggap sudah faham terhadap segala keinginan dan kemungkinan dan jika mereka masih salah pilih, setidak-tidaknya mereka sudah dapat berfikir dan bertanggungjawab sehingga mereka tidak terombang-ambing oleh pertentangan atau konflik batin yang akan terjadi di dalam kehidupan pribadi dan masyarakatnya.
PENGAJARAN BUDI PEKERTI VERSI KI HAJAR DEWANTARA
1.      Maksud dan Tujuan
Buku beliau yang berjudul Karya Ki Hajar Dewantara bagian pertama pendidikan (1977: 484-491). Dalam karangan berikut bukanlah maksud saya (Ki Hajar) untuk memberi uraian tentang masalah ”budi pekerti” sebagai persoalan umum. Bukan pula menelaah tentang hubungan yang ada antara budi pekerti dan pendidikan. Saya (Ki Hajar) hanya mengutarakan sekadar nasihat yang bertali dengan pengajaran (bukan pendidikan) budi pekerti, khususnya tentang isi serta caranya melaksanakan.(Pengajaran hanyalah sebagian dari pendidikan dan berarti pemberian pengertian serta kecakapan ataupun latihan kepandaian).
Hendaknya tulisan saya (Ki Hajar) ini dianggap sebagai penerangan umum tentang pokok-pokoknya (metodik). Hal ini saya anggap perlu, berhubung dengan kerapkali adanya pertanyaan dan pernyataan dari pihak pamong kita mengenai pengajaran tersebut. Diantaranya terdengar ucapan seperti apakah sebenarnya budi pekerti itu dan bukankah pengajaran budi pekerti itu paling rendahnya baru dapat diberikan di bagian Taman Dewasa?Atau apakah isinya pengajaran budi pekerti dan bagaimanakah cara kita memberikannya? Sementara itu, ada pihak lain yang menyatakan bahwa : sebetulnya hanya pamong yang sudah tua yang dapat memberikan pengajaran tersebut.Ada juga suatu pernyataan yang agak ”teknis-metodis” yaitu bahwa : pengajaran budi pekerti itu sebaiknya diberikan secara spontan atau occupasional oleh sekalian pamong, baik ilmu pasti, menggambar, dan lain sebagainya. Memang tiap-tiap pamong keluaran Taman Guru kita atau sekolah guru lainnya, juga mereka yang sudah tamat SMA ataupun mereka yang berpendidikan luas dan dalam, sudah selayaknya dianggap dapat memberi “pengajaran kebaikan” itu.
Menurut pendapat saya (Ki Hajar) pertanyaan dan pertanyaan tadi membuktikan adanya kesalahpahaman. Dikiranya bahwa pengajaran budi pekerti mengandung arti : pemberian kuliah atau ceramah tentang hidup kejiwaan atau keadaban manusia. Atau sebuah keharusan memberi keterangan dan penjelasan budi pekerti secara luas dan mendalam.Mungkin ada yang mengira bahwa untuk itu si pengajar haruslah seorang yang berpengetahuan dan berpengalaman paling sedikit harus seorang yang suci hidupnya, lahir dan batin. Guru diartikan sebagai orang yang harus digugu dan ditiru. Segala dugaan itu adalah tidak benar atau boleh dikatakan sangkaan yang melebihi batas kemungkinan dan keinginan. Oleh karena itu hendaknya diinsafi bahwa pengajaran budi pekerti tidak lain artinya daripada mendukung perkembangan hidup anak-anak, lahir dan batin, dari sifat kodratinya menuju kea rah peradaban dalam sifatnya yang umum. Menganjurkan dan kalau perlu memerintahkan anak-anak untuk duduk yang baik dan manis, jangan berteriak-teriak agar tidak menganggu anak-anak lain, bersih badan dan pakaiannya, hormat terhadap ibu-bapak dan orang tua lainnya, menolong teman yang perlu ditolong,demikian seterusnya.Itu semua sudah merupakan pengajaran budi pekerti. Terhadap anak-anak kecil cukuplah kita membiasakan mereka untuk bertingkah laku yang baik, sedangkan bagi anak-anak yang sudah dapat berfikir, seyogyanya diberikan anjuran untuk melakukan berbagai tingkah laku yang baik dengan cara disengaja. Dengan begitu, syarat pendidikan budi pekerti yang dulu biasa saya (Ki Hajar) sebut metode ngreti-ngrasa-nglakoni (menyadari, menginsafi, dan melakukan) dapat terpenuhi.
Itulah maksud dan tujuan pemberian pengajaran budi pekerti, dihubungkan dengan tingkatan perkembangan jiwa yang ada didalam hidup anak-anak, mulai kecilnya sampai masa dewasanya. Untuk perbandingan ada baiknya kita memerhatikan tradisi pendidikan keagamaan (islam) yang sudah ada pada zaman dulu dan terkenal dengan metode syari’at, hakikat, tarikat, dan makrifat.



2.      Tingkatan Psikologis-Metodis
Pengajaran syariat diberikan untuk anak-anak kecil dan harus diartikan sebagai pembiasaan bertingkah laku serta berbuat menurut peraturan atau kebiasaan yang umum. Si pamong member contoh, anjuran, atau perintah sehingga anak-anak melakukan apa yang diinstruksikan oleh gurunya. Keterangan atau penjelasan belum waktunya diberikan karena anak-anak belum mempunyai kesanggupan untuk berfikir. Kalau ada yang bertanya, boleh juga sip among memberi jawaban asalkan secara singkat dan sambil lalu dan dengan cara atau metode yang dapat diterima oleh si murid.Dikarenakan anak-anak harus membiasakan segala apa yang baik, maka sip among perlu selalu menegur apabila anak-anak berbuat sesuatu yang tidak senonoh. Akan tetapi janganlah lupa akan kodratnya anak-anak, teristimewa akan spontanitet-nya.Berbuat secara spontan,yakni secara tiba-tiba (tidak diniatkan terlebih dahulu) sebagai gejala kejiwaan mempunyai arti yang istimewa,karenanya hal itu amat dipentingkan oleh Montessori.

Adapun tingkatan yang kedua adalah tingkatan hakikat yang berarti kenyataan atau kebenaran dan yang mengandung maksud member pengertian kepada anak-anak,agar mereka menjadi insaf serta sadar tentang segala kebajikan atau kebaikan dan kebalikannya.Pengajaran hakikat dipakai untuk anak-anak pada masa akil balig yakni waktu berkembangnya akal atau kekuatannya berfikir.Ingatlah saya disini akan mengungkapkan suatu ajaran yang senantiasa saya pakai sebagai pegangan, yaitu bahwa syariat tanpa hakikat adalah kosong, sedangkan hakikat tanpa syariat adalah batal!

Tingkatan yang ketiga dalam system pemberian pengajaran menurut tradisi pendidikan agama islam yang dapat kita pakai dengan perubahan seperlunya adalah tingkatan tarikat yang lebih terkenal dengan sebutan tirakat. Tarikat berarti laku,yakni perbuatan yang dengan sengaja kita lakukan dengan maksud agar anak melatih diri untuk melaksanakan berbagai kebaikan, bagaimanapun sukarnya atau beratnya.Inilah latihan bagi anak-anak yang mulai dewasa.

3.      Laku dan Isi Pengajaran
Berikut saya (Ki Hajar) sajikan secara garis besar rencana pengajaran budi pekerti :
a.       Taman Indria dan Taman anak (5-8 tahun)
Segala pengajaran berupa kebiasaan semata yang bersifat global dan spontan atau occasional, yakni belum berupa teori yang terbagi menurut jenisnya (kebaikan dan keburukan) belum pula diberikan menurut rencana atau waktu yang tertentu dan tersendiri. Tiap kondisi yang bersifat psikologis misalnya berhubungan dengan tingkah laku anak-anak,yaitu pada tiap peristiwa yang kiranya dapat menarik perhatian mereka, hendaknya sip among melakukan koreksi yang perlu.


b.      Taman Muda (9-12 tahun)
Dalam periode hakikat ini, hendaknya anak-anak diberi pengertian tentang segala tingkah laku yang mengarah pada kebaikan dalam hidupnya sehari-hari.Meskipun caranya masih occasional atau spontan namun dikelas yang tertinggi dapat disediakan waktu tertentu karena mereka tidak cukup dengan hanya membiasakan apa yang dianjurkan atau diperintahkan oleh orang tua dan sekelilingnya.
c.       Taman Dewasa (14-16 tahun)
Inilah periode atau waktunya anak-anak disamping meneruskan pencarian, dan pengertian juga mulai melatih diri terhadap segala laku yang sukar dan berat dengan niat disengaja. Dalam lingkungan kebatinan, seperti telah diterangkan sebelumnya, pendidikan tarikat diwujudkan dengan bersemadi, berpuasa, berjalan kaki ke tempat-tempat yang jauh yang dianggap suci dan keramat.Pada umumnya segala laku yang disengaja, yang memerlukan kekuatan kehendak dan kegiatan tenaga yang istimewa dapat dianggap sebagai bentuk pengajaran budi pekerti bagi anak-anak di Taman Dewasa.
d.      Taman Madya dan Taman Guru (17-20 tahun)
Inilah waktunya anak-anak memasuki periode makrifat yang berarti bahwa mereka ada pada tingkatan kepahaman yakni biasa melakukan kebaikan, menginsafi, serta menyadari akan maksud dan tujuannya, dimana perlu melaksanakan perilaku yang berat. Pengajaran budi pekerti yang harus diberikan pada mereka ialah berupa ilmu atau pengetahuan yang cukup dalam dan luas.
Pada periode ini anak-anak perlu mendapat pengajaran tentang Pancasila, segala masalah yang berhubungan dengan dasar dan asas ketamansiswaan pada umumnya,yaitu Panca Dharma. Sebagai pengajarnya hendaklah dipilih seorang pamong atau guru yang mengajarkan bahasa atau sejarah ataupun ilmu pendidikan dan psikologi.
Untuk Taman Madya dan Taman Guru, pengajaran budi pekerti perlu dimasukkan ke dalam daftar pelajaran yang diberikan pada waktu-waktu tertentu. Pengajaran dapat dilakukan melalui ceramah, dan jika mungkin dari orang-orang yang ahli dalam hal peri keadaban hidup manusia, dengan tidak membeda-bedakan aliran agama atau keyakinan hidup.

4.      Sumber Bahan Pelajaran
Setelah mengetahui tentang pokok isi pengajaran budi pekerti, yaitu segala yang mengandung maksud memelihara keinsafan dan kesadaran dalam hidup tertib,damai,bagi dirinya dan masyarakat dalam batas-batas Panca Dharma.Dalam lingkungan ketamansiswaan, kini ada niat yang telah direncanakan oleh Majlis Luhur untuk mengumpulkan berbagai karangan mengenai dasar dan asas hidup yang sesuai dengan cita-cita yang terkandung dalam Panca Dharma,baik yang pernah dimuat di Pusara maupun karangan baru, agar memudahkan dalam pencarian bahan pendidikan budi pekerti pada umumnya dan khususnya untuk benih-benih ketamansiswaan dalam jiwa anak didik kita.

KIPRAH TAMAN SISWA DALAM MEMBANGUN BUDI PEKERTI BERBASIS RELIGIUSITAS

Eksistensi dan inti dari pendidikan di Taman Siswa sebenarnya adalah sebuah lembaga pendidikan yang tetap mempertahankan kebudayaan dan juga social untuk kemerdekaan anak bangsa. Jadi,dengan pendidikan tersebut diusahakan agar sebanyak mungkin anak bisa sekolah dan mempunyai jiwa merdeka.Oleh karena itu, pendidikan di Taman Siswa didasarkan atas prinsip atau slogan Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tutwuri handayani,akan membiarkan anak kecil tumbuh sesuai dengan usia pertumbuhannya namun tetap didampingi.

Misi dari Taman Siswa sebagai lembaga pendidikan intinya adalah dengan sarana pendidikan yang ada di Taman Siswa akan mengenalkan kebudayaan, social, dan lain sebagainya kepada anak didik bukan hanya ilmu pengetahuan saja.Perbedaan yang mendasar adalah jika pendidikan Belanda mengarahkan anak didiknya agar setelah lulus menjadi slave (budak) atau antek-anteknya Belanda, yaitu menjadi Pegawai pada pemerintah Belanda. Sedangkan Ki Hajar dengan membuka Taman Siswa beliau menyebar benih untuk memberikan jiwa kemerdekaan pada rakyat Indonesia yang putra-putrinya disekolahkan di Taman Siswa. Resiko dan konsekuensi yang ditanggung cukup berat, termasuk ketika Ki Hajar Dewantara harus berhadapan langsung dengan pemerintah Belanda.

Pendidikan yang digunakan Taman Siswa untuk mewujudkan cita-citanya dengan berdasar pada pengenalan pendidikan budi pekerti kepada anak didik di semua mata pelajaran di sekolah sehingga anak bisa menjadi manusia yang luhur, dan berguna untuk masyarakat.Jadi, dalam pendidikan yang terpenting bukan masalah kecerdasan saja, tetapi justru humaniora atau budi pekertinya.Sekarang ini banyak manusia cerdas, tetapi jika tidak dibekali dengan budi pekerti yang baik maka mereka akan menggunakan kecerdasannya untuk merugikan orang lain. Aplikasi pendidikan budi pekerti di Taman Siswa disatupadukan ke seluruh mata pelajaran. Pendidikan budi pekerti ditanamkan dengan membiasakan berdoa dan memberikan salam sebelum dan sesudah pelajaran. Pelaksanaannya dapat berjalan dengan kondusif jika para pamong atau guru yang ada bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan bersandarkan pada prinsip ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani.

Sumber : Dra. Nurul Zuriah, M. Si, Pendidikan Moral & Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar