Jumat, 14 Desember 2012

Pengelolaan Lingkungan Belajar


Pengelolaan Lingkungan Belajar Konsep Tradisional dan Modern
Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD )
I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Lingkungan belajar terdiri dari ruang dalam dan ruang luar. Keduanya digunakan untuk kegiatan bermain anak, lingkungan belajar harus memenuhi criteria kebersihan, aman secara fisik maupun dari ketakutan atau tekanan. Untuk langkah pengamanan pintu dan jendela harus selalu terkunci, hanya dapat dibuka oleh pengasuh agar anak tidak dapat keluar sendiri tanpa pengawasan.
Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) harus mempunyai system pengawasan yang baik agar anak-anak yang berada di dalamnya aman dan tertib. Pengawasan sudah harus dimulai semenjak anak datang sampai pulang, sehingga orangtua menerima anaknya kembali dalam keadaan aman tanpa cidera.
B.     Tujuan
1.      Supaya mahasiswa mengetahui dan mengerti akan pentingnya pengelolaan lingkungan belajar bagi AUD.
2.      Tugas mandiri mahasiswa untuk mencari sumber referensi lain sebagai pendukung materi kuliah di kampus.
C.    Perumusan Masalah
Kami dapat merumuskan beberapa masalah, yaitu :
1.      Apakah pengelolaan lingkungan belajar sangat penting dalam PAUD?
2.      Mengapa guru harus berkompeten dalam mengembangkan pembelajaran?
3.      Apa rambu-rambu dalam pengembangan kurikulum PAUD?
4.      Hal-hal apa yang mendukung pengelolaan lingkungan belajar PAUD?



1

II.                LANDASAN TEORI
A.    Kajian Teori
1.      Menurut Weikert,1996 dalam Claudia Eliason & Loa Jenkin, 1994
“Pengembangan atau pembelajaran yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar adalah dari sisi anak itu sendiri, bukan dari sisi pemikiran guru”.
Maksudnya adalah pendekatan yang dilakukan berupaya memfasilitasi agar tujuan-tujuan dan kegiatan belajar dapat terintegrasikan dengan dimensi-dimensi perkembangan anak, baik dimensi kelompok maupun dimensi individu. Pendekatan tersebut dikembangkan saat mereka mengalami pertumbuhan secara nyata dan disesuaikan dengan situasi kehidupan unik setiap anak.
2.      Menurut Al Mabrur ( 2003 )
“Bahwa DAP ( Developmentally Appropriate Practise ) dipandang sebagai keputusan professional tentang ( pengakuan terhadap ) keberadaan anak dan pendidikannya yang didasarkan atas pengetahuan perkembangan dan belajar anak, kekuatan, minat, dan kebutuhan anak di dalam kelompok, serta konteks social budaya di mana anak hidup”.
 Pengertian ini merupakan pengertian yang sangat lengkap, dan pada konteks pendidikan Indonesia memungkinkan untuk dapat dilaksanakan.
3.      Menurut Julitio ( 2000 )
“Ia menggambarkan bahwa makanan yang tidak memadai akan menganggu perkembangan termasuk perkembangan otak, yang berpengaruh pada kelainan neurology dan perilaku, seperti gangguan belajar dan retardasi mental”. Rangsangan lingkungan akan berpengaruh terhadap terbentuknya hubungan antar sel otak ( sinaps ) yang akan membentuk jaringan komunikasi antar sel otak dan sama-sama bertugas melakukan koordinasi atas berbagai aspek perkembangan. Begitu pula adanya stress berat akan menimbulkan gangguan pada perilaku dan perkembangan social anak di kemudian hari.
2

4.      Menurut Bredekamp & Rosegrant ( Solehuddin,1997 )
“Menurutnya anak akan belajar dengan baik jika ia merasa aman secara psikologis serta jika kebutuhan-kebutuhan fisiknya terpenuhi”.
Berarti , anak secara alamiah akan termotivasi untuk mengeksplorasi dan memahami lingkungannya jika mereka dalam keadaan sehat dan nutrisinya terpenuhi. Sebaliknya anak akan menurun motivasinya jika nutrisinya kurang terpenuhi. Keadaan ini juga akan menghambat proses belajar anak.
B.     Pembahasan Masalah
1.      Pentingnya Pengelolaan Lingkungan Belajar Dalam PAUD
Pengelolaan PAUD menerapkan manajemen berbasis masyarakat, artinya masyarakat selain sebagai pengguna jasa juga sebagai sumber dan fasilitator. Lembaga PAUD yang sudah terakreditasi A dan B disarankan untuk melakukan audit untuk menjamin transparansi dan penjaminan mutu layanan.
Penataan lingkungan bermain :
-          Penataan lingkungan bermain dan belajar disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak, untuk mendukung perkembangan motorik, bahasa, social emosi, kognitif, dan nilai agama serta moral.
-          Penataan ruangan memenuhi standar keamanan, kesehatan, dan perlindungan anak.
-          Penataan lingkungan sedapat mungkin mengenalkan anak dengan lingkungan rumah dan kegiatan sehari-hari anak di dalam keluarga.
Pengelolaan lingkungan belajar yang kondusif dan menarik minat belajar anak menciptakan lingkungan pembelajaran yang sehat, efektif dan efisien serta menumbuhkan rangsangan anak untuk mengikuti pembelajaran PAUD.



3
2.      Guru PAUD professional adalah  yang berkompeten
Menurut Bredekamp ( 1987 ) dalam bukunya yang berjudul DAP ( Developmentally Appropriate Practices ) yang diterbitkan oleh NAYC ( National Association For The Young Children ) Amerika Serikat. Bredekamp sangat menekankan bahwa pengembangan program pembelajaran PAUD harus berbasis pada perkembangan dan kebutuhan anak, serta disesuaikan dengan karakteristik dan kepentingan anak. Program pembelajaran yang dikemas berdasarkan hakikat anak, layanannya akan lebih diterima dan lebih bermakna bagi anak. Dengan pengembangan program pembelajaran berdasarkan DAP, tindakan-tindakan guru akan lebih efektif dan tepat sasaran karena harapan anak akan terakomodasi lebih baik dan tentunya segala pekerjaan guru yang ditujukan pada anak menjadi lebih optimal dan produktif karena sesuai dengan kebutuhannya.
Untuk calon guru PAUD ataupun masih pemula bahkan yang sudah bertahun-tahun mengajar di lembaga PAUD sebaiknya menguasai prinsip DAP secara memadai agar anda dapat melaksanakan tugas dengan baik serta guru yang berkompetensi.
3.      Rambu-rambu dalam pengembangan kurikulum PAUD
Menurut Al Mabrur ( 2003 ) terdapat lima dimensi mendasar yang saling terkait dalam pengembangan DAP pada jenjang PAUD, yaitu :
a.       Pengembangan masyarakat yang peduli
b.      Pembelajaran yang memperkaya perkembangan dan khasanah belajar anak
c.       Pengembangan kurikulum yang memadai
d.      Assesment perkembangan dan belajar anak
e.       Pengokohan hubungan timbal balik dengan keluarga
Jadi dalam pengelolaan lingkungan belajar PAUD pengelola maupun pendidik dalam lembaga PAUD harus memperhatikan rambu-rambu yang sudah ada dan umum digunakan.

4
Dalam pengelolaan tersebut kita harus memperhatikan factor pembiayaan dan sumber biaya untuk mengadakan sarana maupun prasarana. Dalam konsep ini bisa diterapkan konsep secara tradisional maupun modern. Menurut tekhnologi yang sedang berkembang di masa kini, banyak konsep-konsep modern yang dipakai tetapi membutuhkan pembiayaan besar. Sedangkan untuk mengembangkan konsep tradisional, dibutuhkan pengelola atau pendidik PAUD yang berkompetensi artinya dituntut untuk mengembangkan kreativitas dan inovasinya untuk menciptakan hal baru tanpa membuang kerangka dasar hal yang lama. Bahkan pengelola atau pendidik PAUD yang aktif, kreatif dan inovatif akan mengantar kesuksesan suatu kegiatan pembelajaran PAUD di suatu lembaga tersebut.
4.      Faktor Pendukung Pengelolaan Lingkungan Belajar
a.       Konsep Tradisional
Dalam konsep ini, melihat kata “Tradisional” tentu kita dapat membayangkan sesuatu yang sederhana dan tentunya sedikit tentang masalah pembiayaan ataupun dananya. Pengelolaan lingkungan belajar secara konsep tradisional dapat kita lakukan dengan memanfaatkan hal-hal maupun sesuatu/benda yang sudah ada di lingkungan tersebut tanpa harus mengadakannya dengan mengeluarkan biaya. Misalnya, :
- Dalam hal alat permainan, kita sebagai pendidik bisa mengadakan atau membuat alat permainan sederhana yang menunjang proses pembelajaran dengan tidak usah membelinya.
-Penataan ruangan kelas bisa kita desain dan memberikan suasana yang kondusif dengan memberikan hasil-hasil karya anak didik dan sekaligus memberikan motivasi terhadap mereka tentang kepercayaan diri terhadap prestasinya.
-Penggunaan alat-alat sederhana yang mendukung kegiatan outbound anak-anak di luar kelas, misalnya : alat-alat olah raga buatan sendiri, seperti kethukruk dari kulit kelapa, bakiak dari kayu buatan sendiri, serta permainan-permainan tradisional lainnya.
5
b.      Konsep Modern
Hal ini tentu dapat kita bayangkan, bahwa sesuatu modern pasti kaitannya dengan perkembangan tekhnologi dan informasi sekarang ini. Banyak alat-alat permainan maupun sarana dan prasarana lainnya yang bernuansa modern hasil pabrikan masuk ke lembaga-lembaga PAUD baik di kota maupun desa. Tentu kita sebagai pendidik sudah tidak asing lagi, dalam pengelolaan lingkungan belajar yang menerapkan konsep modern pasti sangatlah mewah dan menarik. Hal ini sangatlah diketahui bahwa, jika suatu lembaga PAUD sudah lengkap peralatannya bahkan menggunakan nuansa modern dipastikan banyak peserta didiknya.
Hal-hal pendukung konsep modern seperti, :
-          Desain interior ruangan yang menarik dan nuansa warna yang menarik AUD
-          Alat permainan edukatifnya yang mewah dan bermacam-macam hasil pabrikan.
-          Alat permainan luar yang mewah dan lengkap serta warna-warnanya yang mendukung akan lebih menarik AUD untuk belajar.
-          Penataan lingkungan lembaga yang mempunyai desain dan animasi yang menarik dan sesuai AUD akan menambah semarak proses pembelajaran.
Demikian sekelumit pemaparan antara konsep tradisional dan modern di lingkungan PAUD.
C.    Motivasi Konsep Pembelajaran Tradisional dan Modern PAUD
Ada beberapa motivasi yang sering dilakukan oleh pendidik untuk mencapai tujuan kegiatan pembelajaran di lembaganya, baik secara tradisional maupun modern. Diantaranya, :
1.      Pemberian hadiah atau pun pujian terhadap anak didik
2.       Dalam pelaksanaan gebyar PAUD sering diadakan Trophy atau Piala yang diberikan kepada yang menjadi juara.

6
3.      Sering dalam permainan outbound anak di luar kelas diadakan motivasi atau rangsangan terhadap anak sehingga anak berhasil melakukan kegiatan motoriknya sesuai tahap dan perkembangannya.
4.      Pemberian PMT gizi untuk anak juga merupakan suatu motivasi nutrisi yang diberikan untuk merangsang perkembangan dan pertumbuhan AUD sesuai tahap dan perkembangannya.
5.      Bahkan untuk lembaga PAUDnya juga ada motivasi maupun rangsangan dari pemerintah untuk berkembang dan menyelenggarakan kegiatan pembelajarannya sesuai kurikulum yang ditetapkan, diberikannya dalam bentuk dana bantuan.
D.    Faktor Pendukung dan Penghambat PAUD
Faktor-faktor yang dapat mendukung dan menghambat proses PAUD, dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.      Faktor Pendukung
a.       Orang tua peduli terhadap pendidikan anak
Kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak membuat orang tua selalu merasa ingin tahu mengenai perkembangan anaknya. Untuk dapat mengetahuinya orang tua dapat langsung menemui guru kelas dan membicarakan mengenai perkembangan anaknya. Hal ini dapat meningkatkan perkembangan anak karena orang tua dan guru dapat bersama-sama mencari jalan keluar untuk mendukung perkembangan anak. Hal ini juga dikemukakan oleh Swick, yaitu involving the parents when childrens are young has long term benefits ( Swick, 1984 ).
Berdasarkan  pendapat tersebut maka orang tua harus sadar bahwa keterlibatan orang tua terhadap pendidikan anak sangat diperlukan karena dengan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak dapat memberikan kontribusi yang banyak bagi kemajuan pendidikan anak.



7
b.      Sekolah bersifat terbuka dalam menerima masukan dari orang tua
Sekolah adalah lembaga yang diserahi tanggung jawab untuk mendidik oleh orang tua, tetapi dalam operasionalnya orang tua dapat dilibatkan dalam proses pembelajaran karena selain di sekolah anak juga mendapatkan pendidikan di rumah yang diberikan oleh orang tua. Dengan adanya kerja sama antara guru dan sekolah maka memudahkan guru dalam mendukung perkembangan anak dan saran dari orang tua dapat menjadi masukan bagi guru dan sekolah dalam melaksanakan pembelajaran.
2.      Faktor Penghambat
a.       Orang tua sibuk bekerja
Kesibukan orang tua adalah salah satu penghambat terciptanya kerja sama antara guru dan orang tua. Orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada guru di sekolah dan menyerahkan anak pada anggota keluarga lainnya atau pengasuh di rumah.
Hal ini dapat menghambat komunikasi secara langsung antara orang tua dan guru sehingga guru tidak dapat memberikan informasi mengenai perkembangan anak kepada orang tua.
b.      Guru kurang dapat mengomunikasikan perkembangan anak
Seorang guru harus mampu mengomunikasikan dengan baik mengenai perkembangan anak kepada orang tua sehingga makna dari pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik. Namun, adakalanya guru mengalami kesulitan dalam penyampaian pesan tersebut, dan hal ini menjadi awal suatu permasalahan antara guru dan orang tua karena orang tua salah dalam menafsirkan pesan dari guru. Semua ini menjadikan kerja sama antara guru dan orang tua tidak dapat terlaksana.





8
III.             KESIMPULAN
A.    Saran
Terima kasih, kami telah menyelesaikan makalah ini. Banyak kekurangan dari makalah ini, kami mohon kepada Dosen pengampu materi untuk menjelaskan dan memaparkan yang benar tentang materi sehingga menjadikan kami mengetahui dan memahaminya sekaligus menjadikan makalah ini lebih sempurna.
B.     Daftar Pustaka
-Http : // www.google.com
-Modul Pengelolaan PAUD, STPI BINA INSAN MULIA Yogyakarta
-Ali Nugraha, Yeni Rachmawati, Buku Materi Pokok PGTK, Universitas Terbuka
-Sardiman, AM, Juni 2003, PT Raja Grafindo Persada, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar














9







Pengelolaan Lingkungan Belajar Konsep Tradisional dan Modern
Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD )
I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Lingkungan belajar terdiri dari ruang dalam dan ruang luar. Keduanya digunakan untuk kegiatan bermain anak, lingkungan belajar harus memenuhi criteria kebersihan, aman secara fisik maupun dari ketakutan atau tekanan. Untuk langkah pengamanan pintu dan jendela harus selalu terkunci, hanya dapat dibuka oleh pengasuh agar anak tidak dapat keluar sendiri tanpa pengawasan.
Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) harus mempunyai system pengawasan yang baik agar anak-anak yang berada di dalamnya aman dan tertib. Pengawasan sudah harus dimulai semenjak anak datang sampai pulang, sehingga orangtua menerima anaknya kembali dalam keadaan aman tanpa cidera.
B.     Tujuan
1.      Supaya mahasiswa mengetahui dan mengerti akan pentingnya pengelolaan lingkungan belajar bagi AUD.
2.      Tugas mandiri mahasiswa untuk mencari sumber referensi lain sebagai pendukung materi kuliah di kampus.
C.    Perumusan Masalah
Kami dapat merumuskan beberapa masalah, yaitu :
1.      Apakah pengelolaan lingkungan belajar sangat penting dalam PAUD?
2.      Mengapa guru harus berkompeten dalam mengembangkan pembelajaran?
3.      Apa rambu-rambu dalam pengembangan kurikulum PAUD?
4.      Hal-hal apa yang mendukung pengelolaan lingkungan belajar PAUD?



1

II.                LANDASAN TEORI
A.    Kajian Teori
1.      Menurut Weikert,1996 dalam Claudia Eliason & Loa Jenkin, 1994
“Pengembangan atau pembelajaran yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar adalah dari sisi anak itu sendiri, bukan dari sisi pemikiran guru”.
Maksudnya adalah pendekatan yang dilakukan berupaya memfasilitasi agar tujuan-tujuan dan kegiatan belajar dapat terintegrasikan dengan dimensi-dimensi perkembangan anak, baik dimensi kelompok maupun dimensi individu. Pendekatan tersebut dikembangkan saat mereka mengalami pertumbuhan secara nyata dan disesuaikan dengan situasi kehidupan unik setiap anak.
2.      Menurut Al Mabrur ( 2003 )
“Bahwa DAP ( Developmentally Appropriate Practise ) dipandang sebagai keputusan professional tentang ( pengakuan terhadap ) keberadaan anak dan pendidikannya yang didasarkan atas pengetahuan perkembangan dan belajar anak, kekuatan, minat, dan kebutuhan anak di dalam kelompok, serta konteks social budaya di mana anak hidup”.
 Pengertian ini merupakan pengertian yang sangat lengkap, dan pada konteks pendidikan Indonesia memungkinkan untuk dapat dilaksanakan.
3.      Menurut Julitio ( 2000 )
“Ia menggambarkan bahwa makanan yang tidak memadai akan menganggu perkembangan termasuk perkembangan otak, yang berpengaruh pada kelainan neurology dan perilaku, seperti gangguan belajar dan retardasi mental”. Rangsangan lingkungan akan berpengaruh terhadap terbentuknya hubungan antar sel otak ( sinaps ) yang akan membentuk jaringan komunikasi antar sel otak dan sama-sama bertugas melakukan koordinasi atas berbagai aspek perkembangan. Begitu pula adanya stress berat akan menimbulkan gangguan pada perilaku dan perkembangan social anak di kemudian hari.
2

4.      Menurut Bredekamp & Rosegrant ( Solehuddin,1997 )
“Menurutnya anak akan belajar dengan baik jika ia merasa aman secara psikologis serta jika kebutuhan-kebutuhan fisiknya terpenuhi”.
Berarti , anak secara alamiah akan termotivasi untuk mengeksplorasi dan memahami lingkungannya jika mereka dalam keadaan sehat dan nutrisinya terpenuhi. Sebaliknya anak akan menurun motivasinya jika nutrisinya kurang terpenuhi. Keadaan ini juga akan menghambat proses belajar anak.
B.     Pembahasan Masalah
1.      Pentingnya Pengelolaan Lingkungan Belajar Dalam PAUD
Pengelolaan PAUD menerapkan manajemen berbasis masyarakat, artinya masyarakat selain sebagai pengguna jasa juga sebagai sumber dan fasilitator. Lembaga PAUD yang sudah terakreditasi A dan B disarankan untuk melakukan audit untuk menjamin transparansi dan penjaminan mutu layanan.
Penataan lingkungan bermain :
-          Penataan lingkungan bermain dan belajar disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak, untuk mendukung perkembangan motorik, bahasa, social emosi, kognitif, dan nilai agama serta moral.
-          Penataan ruangan memenuhi standar keamanan, kesehatan, dan perlindungan anak.
-          Penataan lingkungan sedapat mungkin mengenalkan anak dengan lingkungan rumah dan kegiatan sehari-hari anak di dalam keluarga.
Pengelolaan lingkungan belajar yang kondusif dan menarik minat belajar anak menciptakan lingkungan pembelajaran yang sehat, efektif dan efisien serta menumbuhkan rangsangan anak untuk mengikuti pembelajaran PAUD.



3
2.      Guru PAUD professional adalah  yang berkompeten
Menurut Bredekamp ( 1987 ) dalam bukunya yang berjudul DAP ( Developmentally Appropriate Practices ) yang diterbitkan oleh NAYC ( National Association For The Young Children ) Amerika Serikat. Bredekamp sangat menekankan bahwa pengembangan program pembelajaran PAUD harus berbasis pada perkembangan dan kebutuhan anak, serta disesuaikan dengan karakteristik dan kepentingan anak. Program pembelajaran yang dikemas berdasarkan hakikat anak, layanannya akan lebih diterima dan lebih bermakna bagi anak. Dengan pengembangan program pembelajaran berdasarkan DAP, tindakan-tindakan guru akan lebih efektif dan tepat sasaran karena harapan anak akan terakomodasi lebih baik dan tentunya segala pekerjaan guru yang ditujukan pada anak menjadi lebih optimal dan produktif karena sesuai dengan kebutuhannya.
Untuk calon guru PAUD ataupun masih pemula bahkan yang sudah bertahun-tahun mengajar di lembaga PAUD sebaiknya menguasai prinsip DAP secara memadai agar anda dapat melaksanakan tugas dengan baik serta guru yang berkompetensi.
3.      Rambu-rambu dalam pengembangan kurikulum PAUD
Menurut Al Mabrur ( 2003 ) terdapat lima dimensi mendasar yang saling terkait dalam pengembangan DAP pada jenjang PAUD, yaitu :
a.       Pengembangan masyarakat yang peduli
b.      Pembelajaran yang memperkaya perkembangan dan khasanah belajar anak
c.       Pengembangan kurikulum yang memadai
d.      Assesment perkembangan dan belajar anak
e.       Pengokohan hubungan timbal balik dengan keluarga
Jadi dalam pengelolaan lingkungan belajar PAUD pengelola maupun pendidik dalam lembaga PAUD harus memperhatikan rambu-rambu yang sudah ada dan umum digunakan.

4
Dalam pengelolaan tersebut kita harus memperhatikan factor pembiayaan dan sumber biaya untuk mengadakan sarana maupun prasarana. Dalam konsep ini bisa diterapkan konsep secara tradisional maupun modern. Menurut tekhnologi yang sedang berkembang di masa kini, banyak konsep-konsep modern yang dipakai tetapi membutuhkan pembiayaan besar. Sedangkan untuk mengembangkan konsep tradisional, dibutuhkan pengelola atau pendidik PAUD yang berkompetensi artinya dituntut untuk mengembangkan kreativitas dan inovasinya untuk menciptakan hal baru tanpa membuang kerangka dasar hal yang lama. Bahkan pengelola atau pendidik PAUD yang aktif, kreatif dan inovatif akan mengantar kesuksesan suatu kegiatan pembelajaran PAUD di suatu lembaga tersebut.
4.      Faktor Pendukung Pengelolaan Lingkungan Belajar
a.       Konsep Tradisional
Dalam konsep ini, melihat kata “Tradisional” tentu kita dapat membayangkan sesuatu yang sederhana dan tentunya sedikit tentang masalah pembiayaan ataupun dananya. Pengelolaan lingkungan belajar secara konsep tradisional dapat kita lakukan dengan memanfaatkan hal-hal maupun sesuatu/benda yang sudah ada di lingkungan tersebut tanpa harus mengadakannya dengan mengeluarkan biaya. Misalnya, :
- Dalam hal alat permainan, kita sebagai pendidik bisa mengadakan atau membuat alat permainan sederhana yang menunjang proses pembelajaran dengan tidak usah membelinya.
-Penataan ruangan kelas bisa kita desain dan memberikan suasana yang kondusif dengan memberikan hasil-hasil karya anak didik dan sekaligus memberikan motivasi terhadap mereka tentang kepercayaan diri terhadap prestasinya.
-Penggunaan alat-alat sederhana yang mendukung kegiatan outbound anak-anak di luar kelas, misalnya : alat-alat olah raga buatan sendiri, seperti kethukruk dari kulit kelapa, bakiak dari kayu buatan sendiri, serta permainan-permainan tradisional lainnya.
5
b.      Konsep Modern
Hal ini tentu dapat kita bayangkan, bahwa sesuatu modern pasti kaitannya dengan perkembangan tekhnologi dan informasi sekarang ini. Banyak alat-alat permainan maupun sarana dan prasarana lainnya yang bernuansa modern hasil pabrikan masuk ke lembaga-lembaga PAUD baik di kota maupun desa. Tentu kita sebagai pendidik sudah tidak asing lagi, dalam pengelolaan lingkungan belajar yang menerapkan konsep modern pasti sangatlah mewah dan menarik. Hal ini sangatlah diketahui bahwa, jika suatu lembaga PAUD sudah lengkap peralatannya bahkan menggunakan nuansa modern dipastikan banyak peserta didiknya.
Hal-hal pendukung konsep modern seperti, :
-          Desain interior ruangan yang menarik dan nuansa warna yang menarik AUD
-          Alat permainan edukatifnya yang mewah dan bermacam-macam hasil pabrikan.
-          Alat permainan luar yang mewah dan lengkap serta warna-warnanya yang mendukung akan lebih menarik AUD untuk belajar.
-          Penataan lingkungan lembaga yang mempunyai desain dan animasi yang menarik dan sesuai AUD akan menambah semarak proses pembelajaran.
Demikian sekelumit pemaparan antara konsep tradisional dan modern di lingkungan PAUD.
C.    Motivasi Konsep Pembelajaran Tradisional dan Modern PAUD
Ada beberapa motivasi yang sering dilakukan oleh pendidik untuk mencapai tujuan kegiatan pembelajaran di lembaganya, baik secara tradisional maupun modern. Diantaranya, :
1.      Pemberian hadiah atau pun pujian terhadap anak didik
2.       Dalam pelaksanaan gebyar PAUD sering diadakan Trophy atau Piala yang diberikan kepada yang menjadi juara.

6
3.      Sering dalam permainan outbound anak di luar kelas diadakan motivasi atau rangsangan terhadap anak sehingga anak berhasil melakukan kegiatan motoriknya sesuai tahap dan perkembangannya.
4.      Pemberian PMT gizi untuk anak juga merupakan suatu motivasi nutrisi yang diberikan untuk merangsang perkembangan dan pertumbuhan AUD sesuai tahap dan perkembangannya.
5.      Bahkan untuk lembaga PAUDnya juga ada motivasi maupun rangsangan dari pemerintah untuk berkembang dan menyelenggarakan kegiatan pembelajarannya sesuai kurikulum yang ditetapkan, diberikannya dalam bentuk dana bantuan.
D.    Faktor Pendukung dan Penghambat PAUD
Faktor-faktor yang dapat mendukung dan menghambat proses PAUD, dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.      Faktor Pendukung
a.       Orang tua peduli terhadap pendidikan anak
Kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak membuat orang tua selalu merasa ingin tahu mengenai perkembangan anaknya. Untuk dapat mengetahuinya orang tua dapat langsung menemui guru kelas dan membicarakan mengenai perkembangan anaknya. Hal ini dapat meningkatkan perkembangan anak karena orang tua dan guru dapat bersama-sama mencari jalan keluar untuk mendukung perkembangan anak. Hal ini juga dikemukakan oleh Swick, yaitu involving the parents when childrens are young has long term benefits ( Swick, 1984 ).
Berdasarkan  pendapat tersebut maka orang tua harus sadar bahwa keterlibatan orang tua terhadap pendidikan anak sangat diperlukan karena dengan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak dapat memberikan kontribusi yang banyak bagi kemajuan pendidikan anak.



7
b.      Sekolah bersifat terbuka dalam menerima masukan dari orang tua
Sekolah adalah lembaga yang diserahi tanggung jawab untuk mendidik oleh orang tua, tetapi dalam operasionalnya orang tua dapat dilibatkan dalam proses pembelajaran karena selain di sekolah anak juga mendapatkan pendidikan di rumah yang diberikan oleh orang tua. Dengan adanya kerja sama antara guru dan sekolah maka memudahkan guru dalam mendukung perkembangan anak dan saran dari orang tua dapat menjadi masukan bagi guru dan sekolah dalam melaksanakan pembelajaran.
2.      Faktor Penghambat
a.       Orang tua sibuk bekerja
Kesibukan orang tua adalah salah satu penghambat terciptanya kerja sama antara guru dan orang tua. Orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada guru di sekolah dan menyerahkan anak pada anggota keluarga lainnya atau pengasuh di rumah.
Hal ini dapat menghambat komunikasi secara langsung antara orang tua dan guru sehingga guru tidak dapat memberikan informasi mengenai perkembangan anak kepada orang tua.
b.      Guru kurang dapat mengomunikasikan perkembangan anak
Seorang guru harus mampu mengomunikasikan dengan baik mengenai perkembangan anak kepada orang tua sehingga makna dari pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik. Namun, adakalanya guru mengalami kesulitan dalam penyampaian pesan tersebut, dan hal ini menjadi awal suatu permasalahan antara guru dan orang tua karena orang tua salah dalam menafsirkan pesan dari guru. Semua ini menjadikan kerja sama antara guru dan orang tua tidak dapat terlaksana.





8
III.             KESIMPULAN
A.    Saran
Terima kasih, kami telah menyelesaikan makalah ini. Banyak kekurangan dari makalah ini, kami mohon kepada Dosen pengampu materi untuk menjelaskan dan memaparkan yang benar tentang materi sehingga menjadikan kami mengetahui dan memahaminya sekaligus menjadikan makalah ini lebih sempurna.
B.     Daftar Pustaka
-Http : // www.google.com
-Modul Pengelolaan PAUD, STPI BINA INSAN MULIA Yogyakarta
-Ali Nugraha, Yeni Rachmawati, Buku Materi Pokok PGTK, Universitas Terbuka
-Sardiman, AM, Juni 2003, PT Raja Grafindo Persada, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar














9







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar